Austria II
Friday, November 18, 2005
Waah...sudah lama ya aku nggak ngelanjutin cerita tentang jalan-jalan ke Austria. Udah basi banget deh kayaknya. Cuma, biar buat kenangan tak masukin aja deh..
Boheim Kirchen
Suatu hari kita diundang main ke rumah opapa-omamanya Michio (kalau Ayana panggilnya Urli Opa-urli oma). Duileh....wong sama keluarga sendiri aja pake ngundang-ngundang ya. Beda banget sama di Jakarta yang mau namu kapan aja bisa. Undangan ke rumah mereka juga siang hari setelah makan siang (biar nggak repot ya?). Jadi deh kita main ke Boheim Kirchen, rumah mereka yang jaraknya 20 menit dari St. Poelten.
Banyak cerita seru tentang mereka..Bener-bener aneh kalau aku bilang sih. Tau nggak, sebetulnya mereka itu baru-baru aja baikan sama mertuaku lho setelah hampir 20 tahun saling sebel-sebelan. Michio udah 10 tahun nggak ketemu mereka. Kenapa? Karena opapa-omama itu jahat sama mertua perempuanku. Mereka hanya sayang sama anak laki-laki satu-satunya (mertua laki) dan cucu-cucunya, Michio dan Milena itu. Tiap ultah, Xmas atau hari perayaan lain pasti mereka kasih hadiah dan uang untuk orang-tercinta mereka tapi buat mertua perempuanku enggak. Atau, mereka dulu jelek-jelekin mertua perempuanku ke semua orang dan bahkan sempat kirim surat ke besannya (ortu mertua) di jepang pake bahasa Inggris. Gila nggak!! Maka dari itu Michio, Milena atau mertua lakiku nggak suka sama mereka meskipun hadiah2 dari mereka diterima dengan senang hati..hehehe. Waktu aku nikah dengan Michio, mereka juga nggak dikasih tau langsung, berita kelahiran Ayana juga nggak langsung dikabarin.. Kayak bukan keluarga deh, kayaknya. Naah...setelah kelahiran Ayana, kayaknya mereka baru mulai baik ke mertua perempuanku, omama juga bilang kalau ia mulai tua (padahal baru 80-an lho!), sudah penyakitan jadi pingin baikan dengan mantu-cucunya. Jadi deh, waktu kita ke Austria aku dan Ayana kenalan dengan mereka.
Kelihatannya mereka baik lho, sayang sama aku dan Ayana.. Omama apalagi, sampai bilang ke aku, "Oo..Mein Maedchen (anak gadisku)" dan kasih baju Direndl (baju tradisional Austria). Kita ngobrol-ngobrol di halaman rumahnya yang bagus dan bersih (omama itu suka kebersihan sampai Michio waktu kecil nggak pernah diijinin masuk ke dalam rumahnya, kebangetan!), dijamu Sacher Torte cake yang legit banget! Aku juga akhirnya dikasih liat ruangan-ruangan dalam rumahnya yang memang bersih dan mengkilat.
Kita disana lumayan lama...banyakan ngobrol bahasa Jerman yang aku nggak ngerti, omama sih ngomong bahasa inggris ke aku (opapa dikit ngobrolnya). Tapi rasanya senang sekali bisa ketemu dan kenal mereka. Aku jadi tambah ngerasa punya keluarga juga di Austria.
Beberapa minggu kemudian opapa-omama ngundang aku, Michio dan Ayana untuk makan siang di resto Leiner, sebuah dept. store di St. Poelten. Dan minggu terakhir di Austria kita ketemu lagi waktu mereka ngundang seluruh keluarga makan siang di hotel Hilton, Vienna. Opapa itu pensiunan chef hotel Hilton jadi kita bisa dapat diskon kalau makan disana. Opapa malah bisa nginep di Hlton seluruh dunia dengan harga khusus...makanya beliau tiap tahun pergi ke luar negeri dan selalu nginep di Hilton...borju yah?
Parndorf-Neusiedl am See
Waktu habis ambil visa ke kedutan Ceko di Vienna kita ngelanjutin jalan-jalan ke Parndorf di propinsi Burgenland, di sebelah bawah Vienna, 30 menit perjalanan lewat jalan tol setelah sebelumya jemput Milena di apartemennya dulu. Parndorf ini juga letaknya deket banget sama negara Hungaria, cuma 30 menit kesana. Sayangnya aku nggak bisa main ke sana karena visanya beda lagi. Ceritanya, kenalanku yang tinggal di Vienna cerita kalau dia suka pergi ke Parndorf, tempat outlet-outlet merk terkenal. Aku jadi penasaran, sekalian cari sepatu buat Ayana. Sampai disana, kita udah kagum sama bangunan toko-tokonya yang ala burgenland. Barang-barangnya kalau diliat harganya lebih miring daripada harga di outlet Jepang cuma karena emang nggak minat sama barang-barang merk, yaa..nggak ngiler deh..hehehe. Paling beli kosmetik di Bodyshop yang harganya kebanting-banting (bisa lebih murah 50% lebih dari harga toko sini), sayang...aku nggak niat nimbun sih, jadi belinya juga satu-satu dan beli sepatu Reebok buat Ayana.
Habis dari sana kita mampir ke Neusidl am See. Di kota ini salah satu musisi klasik Austria, Joseph Haydn tinggal, jadi kayak Salzburg, tempat tinggalnya Mozart gitu. Tapi kita nggak mampir ke musiumnya karena 3 tahun yang lalu kita sudah pernah main kesana. Kita cuma mampir ke danaunya yang luaaaas banget kayak laut..Dulu waktu kita kesana masih sepi, sekarang fasilitasnya sudah banyak. Ada dek buat boat dan bebek-bebekan, ada tempat bermain, duduk-duduk, bahkan ada kolam renang khusus anak. Tempatnya enak banget deh buat piknik, olah raga atau buat tidur-tidur, bengong doang juga..Kalau rumahnya deket sih tiap hari main kesana ya.
Boheim Kirchen
Suatu hari kita diundang main ke rumah opapa-omamanya Michio (kalau Ayana panggilnya Urli Opa-urli oma). Duileh....wong sama keluarga sendiri aja pake ngundang-ngundang ya. Beda banget sama di Jakarta yang mau namu kapan aja bisa. Undangan ke rumah mereka juga siang hari setelah makan siang (biar nggak repot ya?). Jadi deh kita main ke Boheim Kirchen, rumah mereka yang jaraknya 20 menit dari St. Poelten.
Banyak cerita seru tentang mereka..Bener-bener aneh kalau aku bilang sih. Tau nggak, sebetulnya mereka itu baru-baru aja baikan sama mertuaku lho setelah hampir 20 tahun saling sebel-sebelan. Michio udah 10 tahun nggak ketemu mereka. Kenapa? Karena opapa-omama itu jahat sama mertua perempuanku. Mereka hanya sayang sama anak laki-laki satu-satunya (mertua laki) dan cucu-cucunya, Michio dan Milena itu. Tiap ultah, Xmas atau hari perayaan lain pasti mereka kasih hadiah dan uang untuk orang-tercinta mereka tapi buat mertua perempuanku enggak. Atau, mereka dulu jelek-jelekin mertua perempuanku ke semua orang dan bahkan sempat kirim surat ke besannya (ortu mertua) di jepang pake bahasa Inggris. Gila nggak!! Maka dari itu Michio, Milena atau mertua lakiku nggak suka sama mereka meskipun hadiah2 dari mereka diterima dengan senang hati..hehehe. Waktu aku nikah dengan Michio, mereka juga nggak dikasih tau langsung, berita kelahiran Ayana juga nggak langsung dikabarin.. Kayak bukan keluarga deh, kayaknya. Naah...setelah kelahiran Ayana, kayaknya mereka baru mulai baik ke mertua perempuanku, omama juga bilang kalau ia mulai tua (padahal baru 80-an lho!), sudah penyakitan jadi pingin baikan dengan mantu-cucunya. Jadi deh, waktu kita ke Austria aku dan Ayana kenalan dengan mereka.
Kelihatannya mereka baik lho, sayang sama aku dan Ayana.. Omama apalagi, sampai bilang ke aku, "Oo..Mein Maedchen (anak gadisku)" dan kasih baju Direndl (baju tradisional Austria). Kita ngobrol-ngobrol di halaman rumahnya yang bagus dan bersih (omama itu suka kebersihan sampai Michio waktu kecil nggak pernah diijinin masuk ke dalam rumahnya, kebangetan!), dijamu Sacher Torte cake yang legit banget! Aku juga akhirnya dikasih liat ruangan-ruangan dalam rumahnya yang memang bersih dan mengkilat.
Kita disana lumayan lama...banyakan ngobrol bahasa Jerman yang aku nggak ngerti, omama sih ngomong bahasa inggris ke aku (opapa dikit ngobrolnya). Tapi rasanya senang sekali bisa ketemu dan kenal mereka. Aku jadi tambah ngerasa punya keluarga juga di Austria.
Beberapa minggu kemudian opapa-omama ngundang aku, Michio dan Ayana untuk makan siang di resto Leiner, sebuah dept. store di St. Poelten. Dan minggu terakhir di Austria kita ketemu lagi waktu mereka ngundang seluruh keluarga makan siang di hotel Hilton, Vienna. Opapa itu pensiunan chef hotel Hilton jadi kita bisa dapat diskon kalau makan disana. Opapa malah bisa nginep di Hlton seluruh dunia dengan harga khusus...makanya beliau tiap tahun pergi ke luar negeri dan selalu nginep di Hilton...borju yah?
Parndorf-Neusiedl am See
Waktu habis ambil visa ke kedutan Ceko di Vienna kita ngelanjutin jalan-jalan ke Parndorf di propinsi Burgenland, di sebelah bawah Vienna, 30 menit perjalanan lewat jalan tol setelah sebelumya jemput Milena di apartemennya dulu. Parndorf ini juga letaknya deket banget sama negara Hungaria, cuma 30 menit kesana. Sayangnya aku nggak bisa main ke sana karena visanya beda lagi. Ceritanya, kenalanku yang tinggal di Vienna cerita kalau dia suka pergi ke Parndorf, tempat outlet-outlet merk terkenal. Aku jadi penasaran, sekalian cari sepatu buat Ayana. Sampai disana, kita udah kagum sama bangunan toko-tokonya yang ala burgenland. Barang-barangnya kalau diliat harganya lebih miring daripada harga di outlet Jepang cuma karena emang nggak minat sama barang-barang merk, yaa..nggak ngiler deh..hehehe. Paling beli kosmetik di Bodyshop yang harganya kebanting-banting (bisa lebih murah 50% lebih dari harga toko sini), sayang...aku nggak niat nimbun sih, jadi belinya juga satu-satu dan beli sepatu Reebok buat Ayana.
Habis dari sana kita mampir ke Neusidl am See. Di kota ini salah satu musisi klasik Austria, Joseph Haydn tinggal, jadi kayak Salzburg, tempat tinggalnya Mozart gitu. Tapi kita nggak mampir ke musiumnya karena 3 tahun yang lalu kita sudah pernah main kesana. Kita cuma mampir ke danaunya yang luaaaas banget kayak laut..Dulu waktu kita kesana masih sepi, sekarang fasilitasnya sudah banyak. Ada dek buat boat dan bebek-bebekan, ada tempat bermain, duduk-duduk, bahkan ada kolam renang khusus anak. Tempatnya enak banget deh buat piknik, olah raga atau buat tidur-tidur, bengong doang juga..Kalau rumahnya deket sih tiap hari main kesana ya.
0 Comments:
back home
Post a Comment
