Meskipun sudah beberapa hari lewat sejak mendengar beritanya, suara ibu masih terngiang-ngiang di telingaku. Ibu mengabarkan berita duka itu disela-sela obrolan ceria tentang Aya dan Ryuta. Hati terasa kosong begitu mendengarnya..cuma bisa memanggilnya dan menangis sedih. Bibi yang selama ini aku kira pulang kampung sejak lebaran haji lalu seperti kata kakak ternyata pulang ke tempat Allah sejak 4 Desember lalu. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Mungkin ga pingin membuat gundah bapak-ibu selama berada di Jepang, kakakku menutupi kenyataan yang ada. Dan, setengah bulan lebih setelah ibu-bapak pulang, aku baru diberi tahu.
Bibi mengabdi pada keluarga kami sudah sekitar 25 tahun, sudah seperti keluarga sendiri. Bahkan namanya pun tercantum dalam Kartu Keluarga kami. Bibi yang endut pendek dan sangat suka tertawa ini sangat pintar memasak. Kalau aku main ke Jakarta pasti membuatkan makanan pesenanku, siomay dan mendoan. Aku dan adik-adik suka main di dapur mengobrol dengan bibi sambil mencomoti masakannya yang kadang membuatnya kesal karena masakannya sudah hampir habis sebelum sampai meja makan, atau menonton bibi makan. Makannya selalu lahap karena selalu ditambah menu khusus, sambel ulek yang ga pernah pingin aku cicipi karena pasti pedesnya amit-amit! Waktu SD tanganku gatal-gatal sampai ga bisa mandi sendiri, bibilah yang membantu memandikanku. Bibi juga sangat sayang sama kucing. Kucingnya pun sangat sayang padanya. Pernah salah satu kucingnya kabur entah kemana karena si bibi pulang kampung. Bibipun pernah memaksaku untuk memberikan fotoku berpakaian kimono waktu lulus kuliah di Jepang. Untuk apa? untuk dipamerkannya ke sanak sodaranya di kampung.. Entah karena endut, Aya senang sekali memukul perutnya. "Aya tangannya berat ya, sakit kalau dipukul", ujarnya selalu setiap habis dipukul Aya.
Selamat jalan bibi, terima kasih telah setia mengabdi pada keluarga kami hingga akhir hayatmu. Maafkan segala kesalahan kami selama ini. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa bibi, lapangkanlah kuburnya, berikanlah tempat terbaik untuknya. Bibi memang sudah ga ada, tapi kenangannya pasti akan selalu ada dihati kami.
Labels: keluarga