Setelah 5 tahun (plus 1 tahun)...
Monday, November 26, 2007

Tinggal di Jepun, akhirnya aku bener-bener makan sushi juga.. Bukan cuma sushi-sushian yang isinya corn atau tamagoyaki atau secuil sashimi tapi nigirizushi yang diatasnya nangkring potongan ikan putih, merah mentah itu..
Jaman kecil aku punya alergi sama yang amis-amis, sebangsa ikan, telur (kecuali telur ceplok yg digoreng garing banget), dan daging kambing. Ketahuannya ketika suatu hari kedua telapak tanganku gatal yang muncul buletan-buletan yang berisi cairan yang lama kelamaan semakin parah sampai aku ga bisa menggosok badanku dengan sabun sewaktu mandi. Sejak itu aku jadi anti sama ikan, segala jenis masakan ikan (ikan mentah apalagi), kecuali ikan yang sudah diolah seperti somay, pempek, otak-otak atau oden (ini pun baru setahun lalu sukanya). Bukannya alerginya takut kumat, tapi aku ga suka dengan amis-amisnya ikan (keluarga Jakarta juga jarang masak ikan jadi sudah ga biasa makan ikan).
Minggu lalu kumpulan ibu-ibu sekolah ngadain ranchikai (makan siang) untuk memperingati berakhirnya boshitsuuen (ibu-anak sama-sama ke sekolah) di salah satu restoran Jepang dekat sekolah. Menurut salah satu seorang ibu, tempat itu di siang hari merupakan restoran sedangkan malam hari merupakan izakaya (bar/pub Jepang), sehingga aku dan ibu-ibu lain berpikir menu yang disediakan model yakitori dan masakan Jepang rumahan. Ternyata, yang pertama kali muncul adalah sepiring aneka nigirizushi!! Sambil bertanya-tanya, "menunya cuma ini aja ya?" aku kelimpungan tengok sana sini..alhamdulillah ada menu kedua yaitu zarusoba. Akhirnya, sambil berdoa-doa mudah-mudahan sushinya enak dan mulut dan perut ga nolak dan support para ibu disekitarku (hehehe..), aku mencoba satu persatu sushi yang terhidang sambil diseling menyeruput soba. Hmm...2 ikan putih (namanya ga tahu), ikan salmon, maguro, cumi-cumi sudah masuk perut..mazukuwa naikedo, oishiitowa omowanai.. Ikura pun akhirnya tak coba meskipun mulut agak-agak menolak dan aku menyerah buat mencoba uni.
Setelah makan siang berakhir aku langsung buru-buru bertanya ke ketua Bambi kai, menu apa yang akan terhidang di acara bounenkai (pesta akhir tahun) bulan depan. Kalau ada masakan selain butaniku (daging babi) dan aneka sushi, aku akan hadir secara uang bounenkainya mahal, kalau aku ga makan apa-apa rugi dooong, apalagi aku juga ga minum kan... Acara makan Bambi kai pertama kali aku absen karena tak pikir biayanya terlalu mahal dan ternyata menunya sushi-sashimi. Kali ini karena aku sudah lapor ke ibu ketua, mereka akan minta menu khusus untukku. Tapi, kalau ada sushi terhidang, aku mau coba makan lagi ah..tresno jalaran soko kulino kan? apa alah biasa karena biasa? Kalau sering-sering mencoba pasti lama-lama terbiasa dan suka gitu..
pic: frm google
Jaman kecil aku punya alergi sama yang amis-amis, sebangsa ikan, telur (kecuali telur ceplok yg digoreng garing banget), dan daging kambing. Ketahuannya ketika suatu hari kedua telapak tanganku gatal yang muncul buletan-buletan yang berisi cairan yang lama kelamaan semakin parah sampai aku ga bisa menggosok badanku dengan sabun sewaktu mandi. Sejak itu aku jadi anti sama ikan, segala jenis masakan ikan (ikan mentah apalagi), kecuali ikan yang sudah diolah seperti somay, pempek, otak-otak atau oden (ini pun baru setahun lalu sukanya). Bukannya alerginya takut kumat, tapi aku ga suka dengan amis-amisnya ikan (keluarga Jakarta juga jarang masak ikan jadi sudah ga biasa makan ikan).
Minggu lalu kumpulan ibu-ibu sekolah ngadain ranchikai (makan siang) untuk memperingati berakhirnya boshitsuuen (ibu-anak sama-sama ke sekolah) di salah satu restoran Jepang dekat sekolah. Menurut salah satu seorang ibu, tempat itu di siang hari merupakan restoran sedangkan malam hari merupakan izakaya (bar/pub Jepang), sehingga aku dan ibu-ibu lain berpikir menu yang disediakan model yakitori dan masakan Jepang rumahan. Ternyata, yang pertama kali muncul adalah sepiring aneka nigirizushi!! Sambil bertanya-tanya, "menunya cuma ini aja ya?" aku kelimpungan tengok sana sini..alhamdulillah ada menu kedua yaitu zarusoba. Akhirnya, sambil berdoa-doa mudah-mudahan sushinya enak dan mulut dan perut ga nolak dan support para ibu disekitarku (hehehe..), aku mencoba satu persatu sushi yang terhidang sambil diseling menyeruput soba. Hmm...2 ikan putih (namanya ga tahu), ikan salmon, maguro, cumi-cumi sudah masuk perut..mazukuwa naikedo, oishiitowa omowanai.. Ikura pun akhirnya tak coba meskipun mulut agak-agak menolak dan aku menyerah buat mencoba uni.
Setelah makan siang berakhir aku langsung buru-buru bertanya ke ketua Bambi kai, menu apa yang akan terhidang di acara bounenkai (pesta akhir tahun) bulan depan. Kalau ada masakan selain butaniku (daging babi) dan aneka sushi, aku akan hadir secara uang bounenkainya mahal, kalau aku ga makan apa-apa rugi dooong, apalagi aku juga ga minum kan... Acara makan Bambi kai pertama kali aku absen karena tak pikir biayanya terlalu mahal dan ternyata menunya sushi-sashimi. Kali ini karena aku sudah lapor ke ibu ketua, mereka akan minta menu khusus untukku. Tapi, kalau ada sushi terhidang, aku mau coba makan lagi ah..tresno jalaran soko kulino kan? apa alah biasa karena biasa? Kalau sering-sering mencoba pasti lama-lama terbiasa dan suka gitu..
pic: frm google
Labels: Ayamom, sehari-hari
2 Comments:
back home
Post a CommentSelamat yaa Niken udah bisa makan sushi ^-^. Dulu bisa makan sushi, gara2 lihat suami makan kok enak banget..akhirnya jadi pingin nyoba. Dan akhirnya jadi doyan deh...^-^
tante niken masak sih baru bs makan sushi hihi..kita disini uda keranjingan sushi banget d, tp pas nenek caca liat caca makan sushi langsung pengen mun2 hihi...


