
Kemarin siang, sepulang menjemput Aya, sambil
ombu (gendong punggung), aku jalan menuju rumah. Bapak-bapak (kakek-kakek?) yang tinggal di pojokan jalan kebetulan sedang membersihkan halaman rumahnya tiba-tiba melihat kearahku, mengucapkan salam dan menawarkan buah
kaki (kesemek) yang barusan dipetiknya. Jauh-jauh hari sebelum kemarin, sewaktu aku lewat rumah blio bersama Aya dan blio sedang menyapu halaman, blio memberi salam dan tersenyum padaku. Padahal, aku sama sekali ga kenal dengan bapak ini, ketemupun baru hari itu. Ramahnya blio...
Memang sih, selama musim buah
kaki, aku selalu melirik ke dua rumah yang memiliki pohon kaki, rumah si bapak itu dan satu rumah lagi yang jaraknya berdekatan sambil berpikir "kok kaki dah mateng-mateng belum dipetik-petik ya, kalau di Jakarta mah dah dicolongin pasti. Untung aku ga punya bakat jadi pencuri..kalau ga, aku dah petik beberapa buah deh...". Sayang Isma, temenku yang punya pohon
kaki tinggalnya di Nagano, kalau rumahnya masih dekat, dengan senang hati aku bantu panennya. Buah beli di
suupa rasanya beda dengan buah petik sendiri kan..
Emang lagi rejeki mungkin ya, si bapak kemarin memetik
kaki-kaki terakhir dan memberikan dua buah padaku (buat Aya sih katanya). Sampai dirumah, tak kupas satu, daging buahnya berwarna coklat mirip-mirip buah sawo, bijinya pun seperti biji sawo. Hm?? Jenis
kaki lain mungkin ya? Bentuk buahnya memang rada bulat tidak seperti kaki yang banyak dijual yang segiempat.. Rasanya? maniiis..
oishii!! Lebih manis dari yang dijual di
suupa (yang 99yen-an itu lho, maksudnya).
Bener kan, buah suupa itu beda dengan buah petik sendiri, apalagi pemberian aka gratis. Terima kasih ya, bapak pojok rumah..
gochisousamadeshita!! Wah...ga di Nozawa ga di Kashiwa, lagi asyik-asyk jalan suka ditawarin buah/sayur nih..
P.S: Tadi pagi aku bertemu blio lagi, tahun depan blio berjanji akan memberiku
kaki yang lebih banyak.. aih..aih...